Kamis, 08 September 2016

Kenali Penghalang Terbesar Anda Dalam Teknik Menulis!

Kenali Penghalang Terbesar Anda Dalam Teknik Menulis!


teknik menulis | teknik menulis cerita | teknik menulis buku | teknik membuat buku

Setiap orang pada dasarnya bisa menguasai teknik menulis, apapun profesinya. Namun, hal yang seringkali terjadi ketika akan memulai menulis buku adalah adanya seribu alasan untuk tidak menulis. Apa saja kira-kira? Berikut ini penjelasan terperincinya!



| Teknik Menulis |

Pertama, kesulitan memulai. Saat ingin menulis apapun itu, tidak terkecuali menulis buku, akan muncul beberapa kekhawatiran terkait bagaimana memulainya. Akan muncul banyak pertanyaan terkait, “Saya harus menulis dari kata-kata apa? Kalimat apa yang saya gunakan untuk memulia tulisan? Kata benda atau kata kerja? Begitu banyak pertanyaan yang muncul dari dalam diri kita. Solusi dari hal ini sebenarnya sederhana, mulai saja. Pertanyaan selanjutnya, mulai dari mana? Jawabannya adalah “mulai dari mana saja”. Mulailah dengan kata apa saja yang terpikir saat itu. Mau kata kerja, boleh. Kata benda, tidak apa-apa. Keterangan tempat atau keterangan waktu, juga tidak masalah. Tuliskan saja.

Apabila kata pertama telah terungkap, maka tinggal meneruskan dengan kata-kata selanjutnya hingga membentuk suatu kalimat. Dari satu kalimat itulah kita teruskan dengan kalimat berikutnya hingga membentuk paragraf. Begitu seterusnya satu paragraf kita teruskan lagi dengan paragraf berikutnya hingga membentuk satu pemikiran yang lebih utuh. Prinsipnya, tuliskan saja lalu alirkan. Kalau kita sudah terbiasa menulis, kita akan menemukan pola dan gaya yang paling nyaman dalam tulisan kita.

| Teknik Menulis 

Kedua, hal lain yang menjadi pertanyaan ketika mulai menulis adalah apa yang mesti dituliskan?. Apakah kita akan menuliskan apa yang kita tahu, pahami, dan menjadi profesi kita sehari-hari atau hal-hal baru di luar profesi kita?. Selain itu, kekhawatiran lain yang muncul ketika mulia menulis buku adaah terkait apakah yang kita tuliskan “berbobot” atau  tidak?. Apakah tulisan kita terlalu ringan ataukah malah terlalu berat untuk pembaca? Apakah buku yang kita tulis sesuai dengan harapan pembaca atau tidak?. Begitulah, berbagai pertanyaan itu “berseliweran”  di pikiran kita. Kalau kita mengikuti pertanyaan itu lalu ragu, jadilah kita berhenti. Terlalu banyak berpikir akhirnya membuat kita terhambat dan tidak jadi menulis.

| Teknik Menulis |


Ketiga, kehabisan ide di tengah proses menulis. Belum mulai menulis kita sudah berpikir nanti di tengah jalan akan kehabisan ide. Apabila berpikir demikian, maka akan benar-benar kehilangan ide di tengah-tengah proses menulis. Solusinya, agar kita tidak kehilangan ide adalah dengan membuat gambaran besar terlebih dahulu dari apa yang akan kita tuliskan. Setelah membuat gambaran besar tulisan yang akan kita tulis, selanjutnya kita dapat membuat outline atau daftar isi. Ketika outline atau daftar isi telah tersusun, maka harus konsisten menulis buku sesuai daftar isi tersebut. Risiko kehabisan ide bisa dikurangi karena ada gambar besarnya.


| Teknik Menulis |


Keempat, khawatir kalau tulisan kita tidak bagus atau  gaya bahasanya “berantakan”.  Kita tidak pernah tahu bagus tidaknya tulisan atau gaya bahasa kita sebelum dituangkan dalam tulisan. Tuangkan saja semua pikiran ke dalam tulisan. Bagus tidaknya tulisan dan gaya bahasa akan semakin terasah saat berlatih dan terbiasa menulis. kalau kita hanya berpikir dan tidak mulai berlatih, gaya bahasa yang bagus tentu hanya akan ada dalam impian yang tidak pernah menjadi nyata.  Kelima, tema tulisan bukan hal baru.  Tidak perlu khawatir bahwa apa yang kita tulis sudah pernah ditulis oleh orang lain, karena setiap orang mempunyai gaya tulisan yang berbeda. Misalnya kita teknik menulis buku dengan tema yang sudah banyak ditulis oleh orang lain, tidak masalah tulis saja. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, setiap orang mempunyai gaya penuturan tersendiri. Bisa jadi tulisan Anda lebih cocok untuk pembaca.

Intinya tulis saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena tidak ada satupun yang benar-benar baru di dunia ini. Pasti sudah ada yang menuliskan sebelumnya. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan tema tersebut dengan apa yang kita inginkan. Setiap buku biasanya ada masa edar dan masa keemasannya masing-masing.  Sebuah buku bisa saja terkenal beberapa tahun ini, tetapi ketenaran buku tersebut lama kelamaan akan pudar dan digantikan dengan buku yang lain. Tugas kita adalah menulis buku untuk mengganti buku-buku lama tersebut dengan buku-buku tulisan kita.

| Teknik Menulis |


Terakhir, apakah penerbit buku mau menerima naskah buku kita atau tidak. Sebelum menerima sebuah naskah, tentu penerbit buku memiliki pertimbangan tertentu. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan di awal menulis buku apakah naskah kita akan diterima penerbit buku atau tidak. Tugas kita sebagai penulis, tulis saja apa yang akan kita tulis. Selesaikan saja tulisan kita dan  perbaiki terus menerus untuk menjadi naskah sebaik mungkin. Apabila naskah kita bagus, maka akan semakin mudah diterima oleh penerbit buku.

Buang semua kekhawatiran yang ada untuk mulai melakukan teknik menulis buku. Apabila kita selalu khawatir ini dan itu, tentu akan selalu ada kekhawatiran. Semua kekhawatiran itu hanya ada dalam pikiran. Jangan sampai kalah dengan kekhawatiran yang sebenarnya semu. Mari mulai menulis!

Teknik Menulis Pemaparan Data Sesuai Kaidah Penerbit Buku

Teknik Menulis Pemaparan Data Sesuai Kaidah Penerbit Buku

teknik menulis | teknik menulisn buku | penerbit buku | penerbitan buku

Data menjadi bagian penting dalam teknik menulis buku, karena faktor yang membuat naskah kita diterima oleh penerbit buku berasal dari data-data yang berhasil kita kumpulkan.

Sebagai sebuah bagian penting dalam teknik menulis, data menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan ketika sedang menyusun buku. Data menjadi roh atau inti utama dari sebuah buku yang kita tulis. Dengan kata lain, gagasan yang kita tuangkan melalui buku bukan lain adalah penyampaian data yang kita dapatkan kepada khalayak luas. Tanpa adanya data, tentu tulisan yang kita buat hanya kosong dan tanpa makna. Data yang dimaksud juga bisa berarti pengetahuan yang kita miliki sampai dengan kita menulis gagasan kita. Bagian tersebut akan menjadi bagian yang paling dibutuhkan ketika kita ingin menguasai teknik menulis buku akademik. Hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari aturan baku yang menjelaskan bahwa buku akademik harus disusun berdasarkan data-data yang didapatkan oleh penulisnya. Data tersebutlah yang kemudian bisa dirangkai menjadi sebuah fakta yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain, pembaca bisa memastikan bahwa tulisan yang kita buat memang ilmiah dan dapat dilihat kebenarannya oleh semua kalangan.

Salah satu hal yang perlu kita ketahui terkait dengan data yaitu bahwa tidak ada aturan baku tentang cara standar untuk memaparkan data. Meskipun demikian, pemaparan data harus sesuai dengan urutan pertanyaan dan tujuan penelitian. Artinya pemaparan tersebut tidak dapat dipaparkan secara acak sesuai dengan keinginan kita. Kondisi tersebut serupa dengan proses pembuatan tugas akhir atau tugas ilmiah yang dialami oleh setiap mahasiswa. Sebagai contohnya ketika kita sedang menyusun skripsi. Pasti kita akan diminta membuat sebuah rumusan masalah yang jumlahnya bisa lebih dari satu pertanyaan.

Berangkat dari rumusan masalah tersebut, bagian atau bab selanjutnya yang kita buat tentu akan sistematis berdasarkan rumusan masalah yang kita buat. Bisa pula berasal dari dari urusan yang umum ke khusus. Sistem tersebut tentu juga berdampak pada cara kita menyusun data-data supaya enak dibaca oleh masyarakat. Susunan data yang kita paparkan bisa dimulai dari sesuatu yang umum ke khusus seperti rumusan masalah yang kita buat sebelumnya.

Dalam teknik menulis, tidak adanya standar aturan baku yang bisa dirujuk tentu membuat penulis sedikit berpikir keras untuk meletakkan data-data yang dimilikinya di dalam sebuah tulisan. Berikut beberapa hal atau penjelasan yang bisa digunakan penulis ketika ingin menyusun sebuah data di dalam tulisan


1. Memaparkan Data Melalui Sub-Heading | Teknik Menulis


Cara lain yang bisa kita gunakan untuk memaparkan data yaitu dengan membuat sub-heading di dalam tulisan yang kita buat. Bagian tersebut biasanya kita buat ketika sudah menulis di bagian konten buku atau di bagian pembahasan dari sebuah kasus yang kita angkat. Pembuatan bagian tersebut menjadi cukup penting untuk mempermudah pemahaman pembaca terhadap tulisan yang kita buat. Bahkan bagian tersebut juga menjadi vital ketika hasil penelitian yang kita paparkan cenderung kompleks. Secara lebih spesifik, bagian tersebut akan mempermudah pembaca dalam memisah-misahkan data yang kita miliki. Dalam teknik menulis, pemisahan tersebut menjadi penting supaya pemahaman pembaca terhadap tulisan yang kita buat dapat dipahami secara sistematis. Sub-heading tersebut nantinya juga bisa kita cantumkan terlebih dahulu di bagian daftar isi. Hal tersebut dilakukan supaya pembaca sejak awal sudah memiliki gambaran data-data apa saja yang sekiranya ingin penulis paparkan di dalam bukunya.

2. Memaparkan Temuan Berdasarkan Urutan Penelitian | Teknik Menulis


Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk memaparkan data secara lebih komprehensif yaitu dengan menyesuaikan urutan tulisan yang kita buat. Hal tersebut serupa dengan kondisi ketika kita ingin membuat sebuah laporan penelitian. Untuk menemukan urutan pemaparan data tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari beberapa aspek kunci seperti pertanyaan penelitian, hipotesis, tujuan penelitian atau tema penelitian. Berangkat dari proses tersebut, nantinya kita bisa memaparkan data-data yang kita miliki melalui penyusunan outline sementara. Sebagai contohnya ketika kita ingin menulis tentang politik di internal keraton, kita bisa merangkainya dari pertanyaan penelitian. Pertanyaan yang kita angkat sebagai contohnya yaitu seberapa kuatkah pengaruh keraton dalam pemilihan kepala daerah di Kota Yogyakarta tahun 2011. Hipotesisnya bisa menggunakan teori modal sosial atau teori lain yang menyatakan bahwa pengaruh keraton cenderung berkurang dalam pemenangan sebuah kandidat. Hipotesis tersebut kemudian kita kuatkan melalui data-data yang kita dapatkan.

Secara lebih spesifik, dalam teknik menulis buku tentang kasus keraton yang disebutkan sebelumnya, maka kita bisa menyusunnya secara lebih rapi. Pada bagian awal kita bisa memaparkan data yang terkait dengan kandidat-kandidat yang secara resmi didukung oleh keraton dalam pemilihan kepala daerah. Bagian selanjutnya bisa kita jelaskan tentang bentuk-bentuk dukungan keraton kepada salah satu kandidat yang maju dalam pemilihan. Kemudian kita juga bisa menjelaskan kecenderungan menang dalam kompetisi tersebut.

Apakah pihak yang didukung oleh keraton selalu menang atau ada juga fenomena kalah dari kandidat lain yang tidak didukung keraton. Dari beberapa bagian tersebut bisa kita rangkai datanya. Meskipun demikian, kita perlu mengingat bahwa sebaiknya kita menyusun bagian-bagian tersebut berdasarkan data yang kita miliki. Apabila tidak, maka kita harus bersiap untuk mengumpulkan data-data yang sekiranya belum kita miliki untuk menyokong argumen yang kita paparkan sebelumnya.


3. Menggunakan Visual Aids | Teknik Menulis


Terakhir, cara yang dianggap paling ampuh untuk memahamkan data kepada para pembaca yaitu dengan menggunakan bantuan visual. Bantuan yang dimaksud terdiri dari tabel, gambar, diagram, model, grafik, dan lain sebagainya untuk meringkas data. Beberapa bantuan tersebut juga sering kita kenal dengan istilah ilustrasi. Seperti kita ketahui bahwa fungsi utama dari ilustrasi adalah untuk membantu pembaca dalam rangka memahami tulisan yang kita buat. Tanpa adanya ilustrasi, tentu tulisan kita bisa jadi sulit untuk dipahami, terutama tulisan akademik yang memerlukan tingkat konsentrasi tinggi untuk memahaminya.

Penggunaan bantuan visual tersebut pada dasarnya juga tidak bisa secara sembarang dilakukan. Artinya ada beberapa etika ketika kita ingin menggunakan bantuan visual tersebut dalam teknik menulis. Penggunaannya nanti bisa disesuaikan dengan konten yang ingin kita sampaikan kepada pembaca.

Selanjutnya, hal penting lain yang perlu kita perhatikan yaitu ketepatan kita dalam menggunakan bantuan visual tersebut. Dalam teknik menulis, tentu kita akan memaparkan banyak data, baik yang sifatnya kuantitatif ataupun kualitatif. Data kuantitatif akan lebih tepat kita gunakan dengan menggunakan tabel atau diagram. Selanjutnya, data yang relatif banyak tersebut bisa diringkas sedemikian rupa sehingga pembaca akan dengan mudah memahaminya melalui bantuan visual tersebut. Pada sisi yang lain, kita juga bisa menambahkan ilustrasi gambar ketika kita sedang menjelaskan data yang sifatnya kualitatif.

Dengan demikian, pembaca akan memiliki bayangan atau gambaran terkait dengan 
penjelasan yang ingin kita sampaikan. Penggunaan bantuan visual pada dasarnya dinilai cukup efektif untuk memaparkan berbagai data yang kita miliki di dalam buku.

Berangkat dari hal tersebut, adalah menjadi kewajiban penerbit buku untuk menyeleksi naskah sedetail mungkin. Sebab, pemaparan data yang Anda lakukan berpengaruh juga pada kredibilitas penerbit buku itu sendiri, selain diri Anda sendiri. Semakin Anda mahir memaparkan data, semakin besar pula kesempatan naskah Anda untuk diterima oleh penerbit buku paling kredibel sekalipun.

Semoga artikel ini bermanfaat, dan jika Anda membutuhkan ilmu lebih dalam tentang teknik menulis, atau teknik-teknik yang lain, Anda dapat mengunjungi ke link yang sudah kami sediakan. Salam integritas!

Teknik Menulis Judul Buku yang Jitu nan 'Menjual'!

Teknik Menulis Judul Buku yang Jitu nan 'Menjual'!


teknik menulis | teknik menulis judul | teknik menulis judul buku | teknik menulis buku | teknik menulis buku judul


Teknik menulis judul adalah bagian yang sulit sekaligus mudah untuk dibuat. Bagaiman kita bisa membuat judul yang menarik bagi penerbit buku? Bagaimana supaya kita bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis judul buku menarik nan 'menjual'?

Teknikmenulis buku pada dasarnya adalah sebuah kemampuan yang terlahir dari ketelitian dan kerja keras si penulis. Dalam prosesnya pun, menulis buku bisa dikategorikan salah satu kegiatan yang sulit dilakukan, terutama bagi mereka yang pada dasarnya tidak memiliki niat untuk menulis buku. Setiap bagian dari buku yang ditulis memiliki tingkat kesulitannya masing-masing, mulai dari penentuan judul, daftar isi, bab-bab yang akan dibahas, dan lain sebagainya.

Salah satu bagian terpenting dan vital dari buku yang kita tulis adalah bagian judul buku. Hal tersebut menjadi lumrah ketika buku yang kita terbitkan tidak dapat dilepaskan dari target penulis dan penerbit buku itu sendiri untuk merambah pasar masyarakat. Dengan kata lain, judul dapat mempengaruhi masyarakat untuk tertarik membeli buku yang kita tulis, terlepas dari teknik menulis si si penulis untuk isi buku tersebut.

Menulis judul buku menjadi terasa sulit ketika judul tersebut secara tidak langsung harus merepresentasikan isi dari tulisan yang kita buat di dalam buku tersebut. Di sisi lain, membuat judul buku tersebut dapat dianggap mudah karena kita hanya membutuhkan beberapa kata yang disusun untuk membentuk sebuah kalimat atau frasa yang menarik untuk dibaca masyarakat. Apabila judul yang kita buat tersebut berhasil merepresentasikan tulisan kita, maka pembaca tidak ragu lagi untuk membeli buku tersebut.

Dalam rangka menemukan inspirasi untuk menuliskan judul buku yang kita tulis, sebenarnya ada beberapa teknik menulis yang bisa kita tempuh.

Tahap pertama, yaitu menentukan topik umum dari tulisan yang kita buat. Adapun contoh dari topik umum yaitu buku tentang politik, ekonomi, makanan, menulis, dan lain sebagainya. Sebagai contohnya, kita coba ambil topik umum tentang politik. Langkah selanjutnya yaitu dengan menentukan topik spesifik yang mana merupakan turunan dari topik umum yang kita pilih. Dalam hal politik sebagai contohnya, maka topik spesifik yang bisa kita ambil adalah demokrasi. Langkah terakhir adalah menentukan judul buku yang kita tulis. Satu hal yang perlu kita ingat yaitu judul buku bersifat lebih sempit dari topik umum dan topik spesifik. Apabila kita mengambil topik spesifik tentang demokrasi, maka judul buku yang bisa kita buat yaitu ‘Demokrasi sebagai Siasat’, ‘Demokrasi Prosedural di Indonesia 1998-2014’, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, proses penyusunan judul pada dasarnya tidak harus dilakukan di awal ketika kita sedang menulis buku. Dengan kata lain, kita dapat menentukan judul dari buku yang kita tulis ketika tulisan kita sudah selesai dan siap untuk diterbitkan. Langkah tersebut dinilai lebih efektif daripada kita telah menentukan judul buku di awal ketika kita sedang akan menulis buku. Apabila penentuan judul buku tersebut dilakukan di akhir, maka setidaknya kita dapat membuat sebuah refleksi atau kesimpulan singkat dari tulisan yang kita buat tersebut. Berangkat dari kesimpulan singkat tersebut, kita bisa mengambil intisarinya yang kemudian bisa kita jadikan rujukan untuk menentukan judul buku yang sesuai dengan tulisan kita. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila dalam proses penentuan judul dari buku yang kita tulis, kita sering mengalami perubahan dalam menentukan judul buku untuk menyesuaikan isi dari tulisan kita.


Berangkat dari kondisi di atas, lalu bagaimana kita bisa membuat judul buku yang menarik di mata masyarakat?

Apabila sebelumnya kita telah membahas cara mendapatkan inspirasi untuk membuat judul dari buku yang kita tulis, maka selanjutnya ada beberapa trik yang bisa kita gunakan untuk mempercantik judul yang kita buat. Dalam teknik menulis buku, tahap ini menjadi bagian yang krusial karena akan menentukan ketertarikan pembaca terhadap buku yang kita tulis
.

1. Membuat Penasaran | Teknik menulis


Salah satu trik yang menarik untuk membuat judul ketika kita menulis buku yaitu dengan membuat pembaca menjadi penasaran terhadap isi buku yang kita tulis. Dalam hal ini, kita hanya perlu memainkan kata-kata untuk selanjutnya disusun menjadi sebuah judul yang sekiranya dapat membuat pembaca bertanya-tanya. Apabila judul tersebut berhasil membuat pembaca tertarik, maka selanjutnya pembaca akan berusaha untuk mencari isi dari sebuah buku yang kita tulis. Adapun judul yang kita buat bisa bersifat sensasional ataupun kontroversial. Judul yang menantang akan mengguggah pembaca untuk melakukan atau mempraktikkan gagasan-gagasan yang disajikan ke dalam suatu buku. Untuk buku referensi atau buku yang disusun berdasarkan penelitian, ada beberapa judul yang menarik seperti ‘Monarki Yogya? Inkonstitusional?’ karya Aloysius Soni atau ‘Benarkah Hamengku Buwono IX Anggota CIA?’ karya K.Tino. Penulisan judul tersebut bisa dibuat dengan menggunakan kalimat tanya untuk membuat pembaca penasaran.


2. Bombastis | Teknik Menulis


Apabila kita membahas tentang buku populer, maka judul yang bombastis seringkali dikaitkan dengan buku yang laku keras di pasaran (best seller). Meskipun demikian, fenomena tersebut pada dasarnya kembali kepada masing-masing pembaca karena adanya penilaian yang subjektif. Pada dasarnya buku yang memiliki isi bagus harus dibarengi dengan judul buku yang bagus juga. Itulah yang sebenarnya yang dipikirkan oleh penerbit buku.

Apabila isi buku tersebut tidak diimbangi dengan judulnya yang bagus, maka buku tersebut bisa menjadi sia-sia karena tidak dilirik pembeli atau pembaca. Membuat judul yang bombastis untuk buku populer pada dasarnya lebih mudah daripada membuat judul untuk buku teks.

Sebagai contohnya, judul buku populer yang bagus yaitu ‘Rich Dad Poor Dad’ karya Robert Kiyosaki atau ‘Quantum Learning’ karya Boby de Porter. Untuk judul buku teks, adapun contohnya yaitu ‘Sosiologi: dengan Pendekatan Membumi’ karya Henslin atau ‘Statistik: untuk Sains dan Teknik’ karya Harinaldi.

3. Spesifik | Teknik Menulis


Salah satu trik yang bisa kita gunakan untuk membuat judul buku yang menarik yaitu dengan melakukan spesifikasi. Dengan kata lain, judul buku yang spesifik pada dasarnya akan membantu pembaca dalam memahami kemungkinan tulisan yang akan dibahas di dalam buku tersebut. Selain itu, judul buku yang spesifik juga secara tidak langsung akan membantu penulis untuk membatasi ruang lingkup bahasan. Dari sisi pembaca, adanya judul buku yang spesifik akan mempermudah pembaca dalam memahami kajian yang akan dibahas di dalam buku tersebut. Sebagai contohnya, kita bisa membuat buku dengan judul ‘Kinerja Presiden SBY 2009-2014’. Judul tersebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa tulisan yang akan dibahas terkait dengan kinerja presiden SBY di tahun 2009-2014 sehingga buku tersebut tidak akan membahas kinerja presiden tersebut di tahun 2004-2009. Dengan demikian, bahasan yang diungkapkan bisa lebih terarah dan mengena pada sasarannya.

4. Powerful | Teknik Menulis


Dalam hal teknik menulis buku, pemilihan kata atau diksi menjadi hal yang cukup penting. Salah satu trik yang bisa digunakan untuk membuat judul buku yang menarik yaitu dengan memasukkan unsur ketegasan di dalam frasa atau kalimat yang kita buat. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan kata kerja untuk membuat judul yang kita buat terlihat lebih bertenaga.

Sebagai contohnya ada beberapa judul yang serupa, tetapi memiliki kekuatan atau ketegasan yang berbeda yaitu ‘Geografi Pariwisata’ (kurang bertenaga), ‘Menelusuri Geografi Pariwisata’ (cukup bertenaga), dan ‘Menguak Geografi Pariwisata’ (lebih bertenaga). Dari contoh tersebut tentu cukup jelas bahwa kita bisa menggunakan diksi yang lebih menarik untuk dibaca. Beberapa hal tersebut yang setidaknya dapat dijadikan pertimbangan dalam membuat judul ketika kita sedang menulis buku untuk diterbitkan.

Semoga artikel ini bermanfaat!

Suka artikel ini? Ayo pelajari lagi tentang penerbit buku atau sistem penerbitan buku!
Sudah punya tulisan? Naskah? Ayo terbitkan disini!


[bk][/mag]





Baca juga:

Teknik Menulis Buku Pertama Supaya Lolos Ke Penerbit Buku Idaman!